Pastor juga Menerima Sakramen Pengampunan Dosa

Pastor juga Menerima Sakramen Pengampunan Dosa Adreas R.M.

ADAKAH DI ANTARA KITA ADA YANG PERNAH BERTANYA, APAKAH PASTOR JUGA MENGAKU DOSA ? KALAU PASTOR JUGA MENGAKU DOSA YANG ARTINYA JUGA BERDOSA, BAGAIMANA WIBAWANYA DALAM MEMBERIKAN SAKRAMEN PENGAMPUNAN DOSA?

Jawaban atas pertanyaan pertama adalah 'ya'. Seorang Imam bahkan seorang Paus pun juga menerima Sakramen Pengampunan Dosa. Mereka secara rutin juga melakukan pengakuan dosa walaupun secara ritual tidak harus dilakukan dalam bilik pengakuan dosa.

Dalam tradisi Gereja Katolik bahkan sejak masih fraterpun biasanya memiliki yang disebut sebagai Bapa Pengakuan. Fungsi dari Bapa Pengakuan adalah sebagai pejabat berwenang gereja untuk memberikan Sakramen Pengampunan Dosa. Selain Bapa Pengakuan ada lagi Bapa Magister atau Pastor Pembimbing yang membimbing secara pribadi dalam hal panggilan hidup para Frater.

Ketika telah ditahbiskan dan sendirinya juga menjadi Pejabat berwenang Gereja dalam Sakramen Pengampunan Dosa tetap saja dibutuhkan Bapa Pengakuan lain. Tidak ada konsep berusaha menerima pengampunan langsung dari Allah dalam Gereja Katolik.

Sakramen adalah tanda Cinta Kasih Allah pada manusia. Karenanya yang memberikan adalah Allah. Namun manusia memiliki segala keterbatasan untuk dapat menerima kerahiman ini. Gereja yang satu Kudus dan Apostolik menyatakan bahwa dalam kesatuan dengan seluruh umat dari segala penjuru dunia dan dari segala jamanlah kita sebagai satu Gereja dimampukan menghayati, menghidupi, dan menerima anugerah Sakramen yang maha mulia.

Di sinilah peran Pejabat Gereja yang hadir dalam setiap penerimaan Sakramen sebagai perwujudan dari Allah dan juga perwujudan dari Gereja semesta. Ini yang menjawab semua pertanyaan dari saudara-saudara kita para jemaat non Katolik.

Wibawa Imam

Pertanyaan kedua adalah pertanyaan yang sangat manusiawi yang bersumber pada tendensi kita untuk mudah curiga dan tidak percaya.

Dosa adalah, dalam kehendak-bebas, kita melawan hati nurani dan akal budi. Sedangkan pertobatan adalah lawan dari dosa, yaitu dengan kehendak bebas dan akal budi kita menyesali dan berjanji untuk tidak berbuat dosa lagi.

Jadi fokus dari Pertobatan bukan pertama-tama pada dosa yang telah dilakukan, namun pada keputusan (dengan kehendak bebas) untuk menyesali dan tekad untuk memperbaiki diri dan tidak berbuat dosa lagi. Dalam konteks ini justru para Imam dan Pejabat Gereja harus memberikan suri tauladan akan keteguhan hati dalam pertobatan. Bahkan dalam beberapa ordo dalam Gereja Katolik wujud penyesalan ini tidak hanya berakhir dimulut dan hati tapi juga diwujudkan dalam laku tapa dan kerja.


Next Post Previous Post