Mewujudkan Keluarga Sebagai Ecclesia Domestica

Mewujudkan Keluarga Sebagai Ecclesia Domestica Team Sie Keluarga

Pengantar :

Kita sering mendengar kata Ecclesia Domestica atau yang sering disebut dengan gereja kecil, teristimewa kalau kita bicara tentang keluarga kita keluarga Katolik. Begitu familier kata-kata dimaksud dengan telinga kita, sehingga kita merasa menjadi bagian dari ecclecia domestica. Untuk memberikan gambaran tentang apa dan bagaimana ecclesia domestica ada di tengah-tengah kita, di bawah ini disadurkan sebuah tulisan yang mudah-mudahan roh gereja kecil benar-benar bisa menyatu dengan keluarga kita.

Dasar :
Familiaris Consortio; Compendium of Social Doctrine of the Church (Doktrin Sosial Gereja).


Keluarga adalah tempat anakanak tumbuh menjadi dewasa (matang), baik secara pribadi maupun sosial. Keluarga juga pembawa warisan nilai-nilai kemanusiaan, karena melalui keluargalah kehidupan dilalui dari generasi ke generasi.

Dilihat dari kacamata Kristiani, Keluarga adalah “gereja domestic” (ecclesia domestica), yang biasa disebut “Gereja Kecil”. Keluarga Kristiani, sebagaimana halnya Gereja secara keseluruhan, harus menjadi tempat di mana kebenaran Injil menjadi pedoman hidup dan pembawa “berkat” bagi komunitas yang lebih luas. Keluarga bukanlah sematamata obyek pelayanan pastoral Gereja. Keluarga adalah juga Mewujudkan Keluarga Sebagai Ecclesia Domestica pewarta Injil yang paling efektif yang dimiliki Gereja. Keluarga Kristiani disebut sebagai saksi Injil, apalagi dalam kondisi dan saat yang sulit seperti sekarang ini, ketika Keluarga berada dalam ancaman berbagai kekuatan. Menjadi ‘agen’ pewarta Injil dalam situasi sulit seperti saat ini, Keluarga Kristiani benarbenar diperlukan perannya sebagai “Gereja Kecil”/ Ecclesia Domestica yang mempunyai sikap rendah hati serta penuh cinta-kasih dalam melaksanakan karya Kristiani.

Oleh karena itu, Keluarga harus aktif dalam kegiatan/ kehidupan paroki, mengambil bagian dalam sakramen, khususnya dalam Sakramen Ekaristi dan Sakramen Pengakuan Dosa serta terlibat dalam pelayanan kepada sesama. Ini berarti pula bahwa para orangtua perlu berusaha memanfaatkan waktu yang ada dalam Keluarga untuk berdoa bersama-sama, untuk membaca Injil dan melakukan refleksi, untuk melaksanakan kegiatan lain yang sesuai yang dipimpin orangtua, serta untuk rekreasi yang sehat. Hal ini akan membantu Keluarga Kristiani menjadi dasar atau basis pewartaan Injil, yaitu setiap anggota Keluarga mengalami cinta-kasih Tuhan dan saling berbagi satu dengan yang lain.

Sinode para Uskup (1980) juga mengakui bahwa anak-anak memiliki peran dalam pewartaan Injil (evangelisasi), baik di dalam Keluarga maupun dalam komunitas yang lebih luas.

Yakinlah bahwa “masa depan dunia dan Gereja terwujudkan melalui Keluarga”

(Dikutip dan diterjemahkan bebas dari pengarahan Paus Yohanes Paulus II dalam Ecclesia In Asia, di New Delhi, India tanggal 06 November 1999).


Next Post Previous Post